Top Banner Space Available

Fakta-fakta Peredaran Kosmetik Oplosan Derma Skin Care

Fakta-fakta Peredaran Kosmetik Oplosan Derma Skin Care

WIKIBerita - Okky Asokawati, Anggota Komisi IX DPR RI meminta BPOM membentuk sistem pengawasan berbasil digital untuk mencegah peredaran kosmetik oplosan. Kasus kosmetik oplosan di Jawa Timur bisa jadi hanya bagian saja.

Berikut Fakta-faktanya:

1. Puncak Gunung Es

Penggerebakan Derma Scin Care (DSC) produk kosmetik kecantikan oplosan di Jawa Timur oleh polisi merupakan gunung es atas fenomena penjualan produk kosmetik melalui saluran digital yang belakangan cukup massif. Apalagi, produk tersebut memanfaatkan selebritis sebagai pihak pemasar. 

2. Libatkan Artis sebagai Endorser

Penjualan produk kosmetik tersebut memanfaatkan publik figur sebagai pihak endorser yang digambarkan telah menggunakan manfaat produk yang dimaksud. Model penjualan ini lazim di era digital yang merupakan dampak disrupsi dalam jual beli, tak terkecuali terhadap produk kecantikan. 

3. BPOM Gagap

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) tampak gagap dalam melihat perubahan pola penjualan produk obat-obatan termasuk makanan yang terjadi di era digital ini. Toko kosmetik, obat dan makanan tak lagi ditemui di outlet yang bisa dijangkau oleh BPOM, etalase produk-produk tersebut kini dipasarkan melalui fasilitas digital. 

BPOM harus melakukan perubahan model pemgawasan terhadap produk obat-obatan dan makanan khususnya produk-produk yang hampir mayoritas telah dilakukan melalui digital baik melalui platform media sosial termasuk di market place online. 

Call Center yang dimiliki BPOM saat ini belum dapat menjawab kebutuhan jaman. Segera buat sistem yang mudah dijangkau oleh masyarakat dalam hal pengurusan izin BPOM melalui fasilitas digital. Di saat bersamaan, BPOM juga harus bangun sistem pengawasan yang solid terhadap produk obat-obatan dan makanan yang berbasiskan digital. 

4. Edukasi Konsumen

BPOM juga harus memberikan edukasi kepada figur publik, endorser, influencer, buzzer, dan pihak-pihak pemasar (marketer) yang lazim ditemui di dunia digital agar selektif dalam mempromosikan produk yang dipasarkan melalui digital. Selektifitas ini penting untuk memastikan para pemasar tersebut aman dari sisi hukum dan terutama memberi keamanan bagi konsumen. 

Edukasi terhadap konsumen harus semakin gencar dilakukan oleh pemerintah dan stakeholder agar memastikan produk yang dikonsumsi aman, sehat, dan halal. Kepastian aspek tersebut harus diperhatikan khususnya di era disrupsi ini yang telah mengubah cara penjualan dan pemasaran. Prinsipnya, keamanan konsumen merupakan nomor satu. []

 

Berita Lainnya