Harapan di Hari Pahlawan

Harapan di Hari Pahlawan

"A mass relationship, the settlers pits brute force againts the weight of number". Demikian relasi pendatang dan Bumiputra dalam setting Kolonialisme yang ditafsir Franzt Fanon (1963). Fanon, psikiater dan filsuf yang punya otoritas akademik dalam diskursus poskolonial.

"The Wretched of the Earth" atau "Black Skin White Masks" adalah satu di antara karya yang melambungkan namanya dalam diskurus tersebut. Terbit dalam alih bahasa Prancis ke Inggris awal dekade 1960-an. Dan itu sezaman dengan Bung Karno yang telah meramalkan rezim global dari kolonialisme dan imprealisme menjadi neo-kolim. Oligarki kelak jadi anak kandungnya pasca Perang Dunia II.

Dalam setting kolonialisme, pendatang mendikte Bumiputra. Dan Bumiputra terikat dalam rantai kolonial.Kini, rantai itu neo-kolim beranak kandung oligarki. Menguasai hampir di seluruh bidang kehidupan.

Tapi ada suatu hal yang tidak akan mampu dikuasai neo-kolim itu. Dialah hope! Sebagaimana kolektivitas impian pendiri NKRI zaman pergerakan Indonesia Modern di dekade kedua abad 20. Padahal mustahil merdeka setelah berbilang abad dijajah, ditindas Portugis dan Belanda.

Frantz Fanon pun demikian. Pejuang Al Jazair ini gigih melawan cengkraman Prancis, juga dilecut oleh harapan.Persis harapan dalam konsepsi Messianisme pada tradisi keagamaan Langit sebelum ditelikung oleh politisi brengsek dan pengusaha hitam, global maupun nasional (proxy).

Hope kita anak bangsa besar ini ditiup oleh Roh NKRI: Anti Kolonial (12 huruf). Dari roh itu lahir Tujuan Pokok NKRI: Indonesia Merdeka, Bersatu, Berdaulat (Kebangsaan), Adil dan Makmur (Keadilan Sosial). Mesti berurutan.Tidak terbalik-balik. Sebab sudah tapak diskursus teori dan praktik gotongroyong perjuangan dalam aktualisasi Indonesiaisme dan Panca Sila. Sila, dasar dan jalan kita berbangsa dan bernegara.

Satu sub tujuan pokok yang copot di antara Dua Garis Besar itu, pasti jalan ngesot. Adil & Makmur sebagai garis Keadilan Sosial tak cukup tanpa garis tegas Kebangsaan: Merdeka, Bersatu, Berdaulat. Demikian sebaliknya.

Bung, Raya Hari Pahlawan! Refleksi menghimpun kembali spirit & gotongroyong melawan oligarki, semakin mempercepat Tujuan Pokok NKRI. Karena kita punya banyak alasan menyalakan api harapan.

Al akhir: dung-gendang-gendung! []


Catatan Digital: Alfi Rahmadi

 

Berita Lainnya