Top Banner Space Available

Kiai Ma'ruf Sebut Jokowi Piawai Ambil Alih Freeport tanpa Gaduh

Kiai Ma'ruf Sebut Jokowi Piawai Ambil Alih Freeport tanpa Gaduh

WIKIBerita - Cawapres nomor urut 01 Ma'ruf Amin mengapresiasi langkah pemerintahan Joko Widodo memastikan kepemilikan Indonesia atas saham Freeport Indonesia dari sekitar sembilan persen menjadi mayoritas 51,2 persen. 

"Kita harus memberi apresiasi tinggi karena kita sudah berhasil mengambil alih saham Freeport, dari sembilan persen jadi 51,2 persen," kata Kiai Ma'ruf di Rumah Situbondo, Jakarta, Sabtu.

Dia mengatakan untuk memastikan kepemilikan saham mayoritas Freeport bukan lah sesuatu yang mudah, karena selama 50 tahun lebih, kepemilikan Indonesia atas tambang di wilayah Papua itu hanya sembilan persen.

"Perolehan 51 persen saham itu luar biasa. Beberapa presiden tak mampu ambil itu. Pak Jokowi luar biasa bisa mengambil porsi 51,2 persen," ujarnya.

Jokowi Main Cantik

Ma'ruf mengatakan persoalan Freeport selama ini kerap mengundang kegaduhan. Dia mengapresiasi kehebatan Presiden Jokowi mengambil alih saham 51,2 persen Freeport, tanpa ada kegaduhan.

"Sangat cantik caranya bisa memperoleh 51 persen saham ini, dilakukan dengan diplomasi dan pendekatan sehingga tak gaduh," kata Kiai Ma'ruf.

Dia juga mencermati dan menghargai keberhasilan pemerintahan Jokowi mengembalikan Blok Mahakam dan Blok Rokan ke pangkuan ibu pertiwi. Baginya, semua itu merupakan keberhasilan luar biasa dalam membangun indonesia lebih baik.

Jangan Nyinyir

Mantan Rais Aam PBNU itu juga meminta tidak ada pihak-pihak yang nyinyir atas prestasi itu.

"Saya kira pengambilalihan saham Freeport ini justru harus diberi penghargaan. Jangan dinyinyiri oleh isu-isu yang sebenarnya tak perlu," ujarnya.

Lebih jauh Ma'ruf juga menyampaikan soal utang dalam berbisnis. Menurutnya dalam bisnis, utang adalah hal yang lumrah. Yang terpenting utang diambil untuk sesuatu yang bisa dikembangkan secara produktif, seperti misalnya pertambangan Freeport. 

"Dalam bisnis itu, ambil utang, bisnis berjalan, utang dibayar, lalu utang lagi untuk mengembangkan bisnis. Itu biasa. Tak masalah sepanjang bisa dipertanggungjawabkan, dan bisa dikembalikan lewat produksi," kata dia. []

 

Berita Lainnya