Top Banner Space Available

PSI: Cetak Rekor Penerimaan, Jokowi Sukses Benahi Fiskal dan Perekonomian

PSI: Cetak Rekor Penerimaan, Jokowi Sukses Benahi Fiskal dan Perekonomian

WIKIBerita - Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan negara tahun 2018 sebesar 100% dari target APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) sebesar Rp 1.894,72 triliun. Capaian tersebut adalah yang pertama kali dalam sejarah APBN.

“Ini sebuah rekor pemerintahan Jokowi-Jk yang kita apresiasi,” ujar Juru Bicara PSI Bidang Ekonomi, Industri dan Bisnis Rizal Calvary Marimbo dalam keterangannya hari ini di Jakarta. Rizal mengatakan, pencapaian ini dengan sendirinya menepis anggapan perekonomian sedang bermasalah besar.“Faktanya, dari sisi fiskal semakin sehat bahkan mencatat rekor sepanjang sejarah,” ucap Rizal.

Dia mengatakan, selama ini realisasi penerimaan selalu meleset dari target dan menjadi momok menakutkan disetiap pemerintahan tiap tahun. Hal ini disebabkan, tak tercapainya realisasi penerimaan pajak yang menyebabkan pemerintah meningkatkan asumsi defisit anggaran dalam rancangan perubahan APBN dan menarik pembiayaan dari utang.  

“Namun Jokowi dan Menkeu sukses mengakhiri situasi menakutkan itu tahun ini. Jokowi dan Ibu Menkeu memperbaiki hal-hal yang struktural dan subtantif dalam perekonomian kita. Cuma kita tidak sabar. Kita suka dengan ekonomi yang booming dan eye catching tapi hanya gincu,” ucap Rizal.

UMKM Berkembang

Rizal mengatakan, capaian tersebut didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang semakin berkualitas di era pemerintahan Jokowi-JK. Pemerataan pembangunan, inflasi terjaga, dan gini rasio yang menurun. 

“Ada stagnasi di usaha-usaha besar. Tapi ada geliat di usaha-usaha kecil dan menengah (UKM) atau usaha rakyat. Harga-harga terkendali. Kemampuan pelaku UKM dalam membayar pajak juga menguat. Saya yakin PPn meningkat tajam, atau ada faktor lain yang sifatnya positive leverage,” ucap Rizal.

Rizal menambahkan pemerintah memperbaiki penerimaan pajak yang selama ini tidak tidak optimal, belanja yang tak terkendali, hingga menjaga defisit tak lewat dari 3 persen, dan mendorong pendapatan non pajak.  “Dengan pengelolaan fiskal semacam ini, PSI optimistis ekonomi nasional tak hanya akan tumbuh semakin berkualitas namun juga secara kuantitas akan lebih baik dari tahun 2018,” ucap Rizal.

Sebelumnya Menkeu Sri Mulyani menyebutkan, untuk belanja negara realisasinya sebesar 97% dari alokasi yang ditetapkan Rp 2.220,65 triliun. Dengan realisasi penerimaan dan belanja tersebut, maka defisit anggaran berada di bawah 2%. Penerimaan negara yang telah mencapai Rp 1.894,72 triliun ini, kata Sri Mulyani berasal dari pajak, cukai, PNBP, dan hibah. []

 

Berita Lainnya