Redam Radikalisme, Kaderisasi IPNU di Sekolah Umum Harus Massif

Redam Radikalisme, Kaderisasi IPNU di Sekolah Umum Harus Massif

WIKIBerita - Saat ini banyak pelajar dan mahasiswa yang terjangkit paham radikalisme. Luasnya paham radikal di Indonesia ini tercermin dari data Badan Intelijen Negara (BIN) yang menyebut 23,4 persen pelajar Indonesia setuju dengan konsep jihad demi tegaknya negara Islam.

Pada 2019, Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Aswandi bertekad untuk meningkatkan upaya deradikalisasi melalui kaderisasi IPNU.

"Agar bibit radikalisasi bisa diredam, kita maksimalkan gerakan kaderisasi IPNU, penanaman nilai-nilai Ahlussunah wal jama'ah dan nasionalisme di sekolah-sekolah," kata Aswandi yang terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum IPNU pada 25 Desember 2018 lalu tersebut.

Sekolah Umum

Pemuda kelahiran tahun 1992 asal Jambi ini memandang perlu perluasan ruang organisasi pelajar di sekolah guna menanamkan rasa nasionalisme dan moderatisme beragama. Pengaderan di sekolah umum, tidak terbatas madrasah dan pondok pesantren, menjadi penting mengingat tingginya angka tersebut. 

"IPNU harus secara masif melakukan pengkaderan di sekolah-sekolah umum, bukan hanya di pondok pesantren dan sekolah madrasah saja," katanya.

Proses pengaderan, menurutnya, tidak sebatas pengkaderan formal seperti Makesta, Lakmud, hingga Lakut. Tapi juga dengan memberikan kebutuhan kader. Kajian ilmu agama, sosial dan budaya, misalnya. IPNU di masing-masing tingkatan perlu menyediakannya.

Hal serupa juga, lanjutnya, perlu dilakukan dalam upaya peningkatan kualitas kader di bidang yang mereka minati. "IPNU harus memfasilitasi, setidaknya memberikan jalan," katanya.

Sebagai organisasi kepelajaran di bawah naungan Nahdlatul Ulama, IPNU mempunyai tanggung jawab besar di level bawah guna melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan masa depan. []

 

Berita Lainnya